Fabel Harimau dan Harta Karun si Kancil –
Setelah si kancil selamat dari cengkeraman ular sanca pada kisah si kancil dan
ular sanca sebelumnya, kini si kancil berniat pergi meninggalkan ular sanca
yang tengah pingsan di mulut goa. Dengan tubuh yang masih lemas karena
kelelahan, si kancil berjalan pelan sambil mengumpulkan tenaga. Terdapat beberapa
luka di tubuhnya akibat pergelutanya dengan ular sanca ketika berusaha
melepaskan diri. Namun ternyata, hari
itu nasib si kancil sepertinya sedang sial.
Tidak seberapa jauh dia baru saja berjalan dari goa,
tiba-tiba secara tak sengaja dia melihat sekelabt bayangan di depanya. Dia sangat
kenal sekali dengan bayangan itu, tubuh yang tinggi besar dengan cakar dan
kulit bermotif loreng. Dia adalah harimau yang dulu pernah dia tipu waktu
pertama kali tiba di hutan Eutopia pada kisah awal mula si kancil. Si kancil
sadar, kali ini dia tidak mungkin bisa lari atau bersembunyi. Jika harus lari,
dia pasti tertangkap karena badanya sudah lemas tanpa memiliki tenaga
sedikitpun. Dan jika harus sembunyi, maka itu akan menjadi hal yang sia-sia
karena penciuman harimau sangat tajam. Apalagi dengan bau darah yang di
timbulkan oleh bekas-bekas lukanya.
Namun bukan si kancil namanya jika dia langsung menyerah dan
putus asa. Dengan karunia otak cerdas yang dimilikinya, si kancil berusaha
tenang mencari jalan keluar. Dan beberapa
saat kemudian, dia sepertinya menemukan sebuah ide yang sepertinya akan
berhasil. Namun sebelum dia sempat berbalik, si harimau sudah muncul dengan
geraman yang menakutkan.
“Grrrrrrrrr...!! hahahaha.. ternyata kalau memang sudah
takdir tak akan kemana. Aku tak harus susah-susah mencari mu. Kancil.. kita
bertemu lagi. Apa perlombaan kita yang dulu harus di lanjutkan sekarang? Grrrrr..!!”.
kata harimau penuh senyum licik.
Namun si kancil mampu mengendalikan diri, dia berusaha
bersikap tenang agar semua rencana berjalan lancar. Dia bahkan menunjukan raut
wajah yang cukup menggertak, seolah dia ingin menunjukan bahwa dia tidak
gentar.
“Oh.. sekarang ganti datang lagi satu perampok. Ada apa
harimau? Apa kau juga mau merebut harta karun ku yang berharga? Aku tak akan
gentar. Tadi aku sudah mengalahkan banyak perampok yang mau merebut harta karun
yang ku temukan. Ada banteng, buaya, macan kumbang, beruang, dan sekarang kamu?
Ah, tak apa.. aku tak akan takut”. Kata kancil menggertak.
Mendengar jawaban si kancil, si harimau menjadi bingung
karena tak faham dengan apa yang dimaksud oleh si kancil. Niat awal ingin
membuat si kancil takut dan lari tunggang langgang, kini malah si harimau yang
kebingungan karena di kira perampok oleh si kancil.
![]() |
| Gambar Harimau |
“hai hewan kerdil..!! apa maksud mu mau merampok? Memangnya apa
yang membuat mu layak untuk di rampok? Harta karun apa? Aku tak faham apa yang
kau bicarakan. Aku hanya ingin menyelesaikan masalah kita yang dulu belum
selesai mumpung kita bertemu disini”. Kata harimau marah.
“Ah.. bohong..!! kau tak beda dengan para perampok yang
sudah ku kalahkan. Awalnya mereka berkata tak tertarik, namun pada akhirnya
mereka mau merebutnya dari ku dan berniat mencelakai ku. Untungnya aku kuat,
meski penuh dengan luka, aku berhasil membuat mereka kapok”. Kata kancil
kembali menggertak.
Mendengar penjelasan si kancil, si harimau menjadi semakion
penasaran. Dia melihat tubuh si kancil, memang terlihat banyak bekas-bekas luka
goresan di sekujur tubuh. Sepertinya si kancil baru saja mengalami pergulatan
yang cukup sengit. Dan hal tersebut, membuat rasa penasaran si harimau semakin
menjadi. Dia harus tau apa sebenarnya yang disembunyikan si kancil. Dan harta
karun seperti apa yang sedang di pertahankan si kancil dengan susah payah itu.
“Grrrr..!!! kau membuat ku marah kancil. Membuat aku semakin
lapar, dan untungnya kini sudah ada makanan lezat yang siap ku santap. Jika kau
memang ingin bertarung, sudah tentu kau tak memiliki kesempatan untuk menang. Namun
aku adalah raja hutan yang cukup baik hati. Tunjukan pada ku harta karun mu,
maka mungkin aku akan mengampuni nyawa mu. Atau pilihan kedua.. kau aku makan,
dan harta karun mu yang kau sembunyikan akan tetap jadi milik ku. Maka,
berfikirlah dengan bijak demi keselamatan mu”. Kata harimau.
Mendengar hal itu, kancil merasa gembira di dalam hati
karena si harimau sudah termakan oleh umpanya. Maka kini tinggal bagaimana dia
membuat rencana itu berhasil 100%. Si kancil berpura-pura diam sejenak,
seolah-olah berfikir mempertimbangkan sesuatu. Sedangkan si harimau masih
menunggu dengan gelisah, dia semakin tak sabar.
“hai..!! bagaimana cil..? Cepat putuskan sebelum aku berubah
fikiran..!!”. kata harimau.
“Hmmm.. baiklah. Lagipula aku sama sekali tak memiliki
pilihan bukan. Maka aku akan memilih untuk menyerahkan harta karun itu pada mu.
Namun untuk menjaga agar kau tidak melanggar janji mu, maka aku hanya akan
menunjukan tempatnya saja. Setelah itu aku akan pergi, dan kau menuju tempat
itu sendiri”. Kata si kancil.
“Hah.. tidak bisa. Jangan-jangan kau hanya membohongi ku,
dan harta itu sebenarnya tidak ada”. Kata harimau keberatan.
“Bukankah kau sudah lihat sendiri buktinya? Bagaimana bekas-bekas
luka di tubuh ku ini? Apa aku melukai tubuh ku sendiri? Bukankah itu hal yang
bodoh?”. Kata kancil mengelak.
Mendengar alasan kancil yang masuk akal itu, akhirnya si
harimau mau menerima.
“baiklah.. aku percaya. Lalu, di mana harta karun itu
berada? Apa bentuknya? Dan bagaimana cara aku bisa tahu bahwa itu adalah harta
karun yang kau maksud?”. Tanya harimau.
“Nah.. tadi waktu aku sedang istirahat di goa di lembah, aku menemukan
sebuah sabuk cahaya. Sepertinya itu adalah sabuk bertuah peninggalan raja
Sulaiman. Siapa saja yang mengenakanya, akan terlihat gagah dan tambah
berwibawa, di hormati, dan disegani. Sudah banyak yang coba merebut dari ku,
namun mereka semua berhasil ku usir berkat sabuk itu aku kenakan. Namun sabuk
itu terlalu berat untuk aku bawa, karena lapar, aku mencari makan dan
meninggalkan sabuk itu di mulut goa. Dan tiba-tiba aku sudah bertemu dengan mu.
Aku tak sempat berbalik, dan sekarang beginilah keadaan kita sekarang”. Jelas si
kancil.
“Wah.. wah.. wah.. tak ku sangka, kau memang benar-benar
memiliki harta karun yang cukup langka. Baiklah, kini silahkan kau pergi, kau
ku ampuni kali ini. Dan ingat.. rahasiakan tentang sabuk cahaya itu dari
siapapun. Jangan ceritakan jika aku memilikinya”. Kata harimau.
“Hmm.. baiklah, rahasia mu aman bersama ku. Sekarang aku
pergi dulu. Semoga sabuk itu cocok dengan mu harimua. Sampai jumpa lagi”. Kata kancil
kemudian berlari dengan cepat meninggalkan harimau. Sedangkan harimau berjalan
ke arah yang berlawanan menuju mulut goa yang di maksud oleh si kancil. Benar saja,
seperti cerita si kancil. Di mulut goa itu terdapat sebuah sabuk yang cukup
indah. Bentuknya panjang, besar, dan berkerlip ketika tertimpa sunar matahari. Saking
panjangnya, bahkan hingga ada bagian yang masih tertinggal di dalam goa.
Dengan senangnya, si harimau menggulung sabuk itu ke
badanya. Dia mengenakanya dengan rasa bangga, bergaya, dan merasa menjadi hewan
paling gagah di jagad raya. Namun ketika dia tengah terlena dengan
kesombonganya, sabuk cahaya yengternyata adalah ular sanca yang tengah pingsan
itu kini sudah sadarkan diri. Dia lalu melilit harimau dengan kuat, semakin
kuat. Merasa ada yang tidak beres, insting harimau mengembil alih. Dia berusaha
melepaskan lilitan yang semakin kuat itu. Dia bergumul, dengan susah payah. Mencakar,
menggigit, dan akhirnya ular sanca itu menyerah, melepaskan lilitanta lalu lari
masuk ke dalam sungai. Sadar bahwa si kancil baru saja menipunya untuk yang
kedua kali, kini harimau semakin geram dan berlari mengejar si kancil yang
sudah berlari jauh. Bagiman nasib si kancil selanjutnya? Apakah akan tertangkap
oleh harimau? Sepertinya, cerita dongeng si kancil dan harimau sudah mulai seru
dari sini.
Story By: Muhammad rifai
Hikmah yang bisa kita petik: dalam hidup, adakalanya kita
akan menemui berbagai masalah. Mulai dari yang ringan hingga yang berat. Dan terkadang,
kita akan merasa tidak kuat, menyerah, dan putus asa. Namun sebenarnya, Tuhan
memberi kita cobaan di sesuaiakan dengan kemampuan makhluknya. Jangan pernah
putus asa, contohlah sifat optimis si kancil. Dan dia selalu menemukan cara
untuk lepas dari masa-masa sulit.


0 Comments