Dongeng si Kancil dan Buaya Sungai – Setelah si
kancil berhasil kabur dari bahaya yang mengancamnya pada kisah kancil dan harimau
sebelumnya, kinisi kancil berlari dengan sekuat tenaga untuk menghindari
kejaran harimau. Karena jika harimau sadar bahwa dia telah di tipu, tentu si
kancil tidak akan bisa selamat karena harimau akan sangat marah. Dengan sekuat
tenaga si kancil menerobos semak, melawati jalan sempit, serta jalan yang
curam, agar bisa segera sampai ke rumahnya. Namun tiba-tiba langkah si kancil
terhenti, karena di depanya ada sebuah sungai
yang sangat luas.
Dia memang baru pertama kali melewati jalan pintas itu, dan
dia tak tahu bahwa dia harus melewati sungai untuk sampai ke rumahnya di
seberang. Itu adalah hutan eutopia, dimana dia dan kawan-kawanya tinggal. Namun
jika dia harus memutar lagi, maka akan terlalu jauh. Dan tentunya harimau pasti
akan menemukanya dan mampu mengejarnya. Kini si kancil mulai bingung. Apa yang
harus dia lakukan untuk bisa sampai ke seberang?
Di tengah-tengah kebingungan yang melanda serta rasa panik
karena takut harimau akan segera sampai, dia tiba-tiba teringat dengan para
buaya sungai. Muncul ide yang cukup nekat di benaknya. Dia berniat menggunakan
para buaya agar membantunya bisa sampai ke seberang. Lalu, bagaimana cara si
kancil untuk menarik para buaya agar mau muncul? Si kancil mencelupkan sedikit ujung kakinya
yang terluka di dalam air, dan dengan bau darah itu, para buaya menjadi
tertarik dan muncul ke permukaan.
“Wah.. wah.. wah.. lihat kawan-kawan.. ada mangsa yang
datang dengan sendirinya. Tuhan memang baik, selalu tahu apa yang kita butuhkan
di kala lapar”. Kata salah satu buaya.
“Wah.. benar sekali.. tapi tubuhnya terlalu kecil, mana
mungkin bisa mengenyangkan perut kita semua? Bagaimana kalau kita berlomba
siapa yang dapat menangkapnya lebih dulu, dia yang berhak memakanya?”. Jawab salah
satu buaya yang lain.
Namun di kala para buaya berebut untuk mendapatkan si
kancil, si kancil malah tertawa di pinggir sungai. Tak terlihat sedikitpun rasa
takut di wajahnya. Melihat hal itu, para buaya menjadi tidak mengerti. Sebenarnya
apa yang membuat si kancil tertawa padahal seharusnya dia ketakutan.
“hai kancil..!! kenapa kau malah tertawa? Kami disini
berebut untuk memakan mu. Kenapa kau malah tidak lari?’. Tanya salah satu
buaya.
“hmm.. terimakasih para buaya. Kalian membuat ku merasa
tersanjung karena memperebutkan aku. Tapi aku kesini hanya sebagai utusan saja,
dan kalian tidak boleh memakan seorang utusan jika tak mau mendapat murka dari
baginda Raja Sulaiman”. Kata kancil sambil tersenyum.
Mendengar nama Raja Sulaiman di sebut, membuat para buaya terkejut. Mereka tidak mengira bahwa raja Sulaiman akan menjadikan kancil sebagai utusan kepada mereka.
“ah.. benarkah itu cil..? apa benar kamu utusanya Raja
Sulaiman? Memangnya ada perlu apa hingga dia mengutus mu kepada kami? Di utus
untuk mengenyangkan perut kami? Hahahahah..’ kata salah satu buaya meledek.
“Wah.. kau pintar sekali. Kau sangat benar. Aku di utus
untuk membuat perut kalian kenyang. Bahkan sangat-sangat kenyang”. Kata kancil
dengan wajah gembira.
Kontan saja sikap si kancil itu membuat para buaya semakin
bingung. Mereka semakin tak mengerti apa sebenarnya tujuan si kancil. Mereka saling
pandang, seolah bertanya satu sama lain. Namun mereka juga tak tahu apa yang
sebenarnya terjadi. “Oke cil.. kami menyerah. Kami bingung dengan maksud tujuan
mu kemari. Sekarang jelaskan apa maksud mu datang menemui kami”. Kata salah
satu buaya yang paling besar. Mungkin dia adalah ketua kelompok itu.
‘Nah begini bos buaya.. aku di utus kesini oleh baginda raja
Sulaiman untuk mengundang kalian semua dalam sebuah pesta. Akan ada banyak
makanan untuk kalian hingga kalian akan merasa sangat kenyang. Dan tujuan ku
kemari, di tugaskan untuk menghitung berapa jumlah buaya yang tinggal di sungai
ini. Untuk berjaga-jaga siapa tahu nanti makanan yang disediakan kurang dan
tidak cukup untuk kalian semua”. Jelas si kancil.
Mendengar penjelasan si kancil itu, para buaya menjadi
sangat gembira. Mereka baru saja di undang untuk ke pesta Bagibda raja
Sulaiman. Sungguh suatu kehormatan yang langka.
“nah sekarang.. cepat panggil semua buaya yang ada di sungai
ini, dan suruh mereka berbaris rapi dari ujung sungai hingga ke seberang. Aku akan
menghitung kalian satu persatu agar tidak ada yang terlewat”. Pinta si kancil.
Para buaya hanya menurut tanpa curiga sedikitpun, karena
mereka percaya bahwa ini adalah perintah dari Raja Sulaiman. Mereka memanggil
semua buaya yang ada di sungai, lalu berbaris lurus dari ujung sungai hingga
keseberang sungai. Dan setelah di rasa semua sudah siap, si kancil melompat
kepunggung para buaya itu satu persatu sambil menghitung mereka. Dia melakukan
hal itu hingga buaya terahir yang ada di seberang sungai, lalu dia melompat ke
pinggir sungai tepat di kawasan hutan Eutopia, rumahnya.
“Nah sudah selesai.. terimakasih banyak para buaya. Sekarang
kalian sudah boleh pergi’. Kata si kancil.
“Lho..? Cuma begitu saja? Jadi kapan acara pestanya cil? Kapan
kami akan di undang?”. Kata salah satu buaya.
“Nah kalau masalah itu akau jugabelum tahu kapan pestanya
akan diadakan. Aku Cuma di utus untuk menghitung kalian saja. Sedangkan kapan
tepatnya pesta, hanya Raja sulaiman yang tahu. Apa kalian mau protes pada Raja
sulaiman?”. Kata kancil mengelabuhi buaya.mendengar jawaban si kancil, para
buaya tak berani menjawab. Karena mereka tak mungkin berani melawan Raja
Sulaiman. Jika si kancil hanya di utus untuk menghitung saja, itu berarti
memang titah dari sang raja. Begitu fikir mereka. Dan akhirnya dengan perasaan
kesal, para buaya itu kembali ke dalam sungai tanpa protes satu pun. Sementara si
kancil meneruskan perjalananya pulang ke rumah dengan hati tenang.
Di lain tempat, harimau berhasil mengejar jejak si kancil. Namun
dia terhenti, terpaku, dan tak percaya ketika dia melihat dengan mata kepalanya
sendiri bahwa si kancil berjalan menyeberangi sungai dengan menginjak-injak
gerombolan buaya. Dan anehnya, tak ada satupun buaya yang berniat memakanya. Hal
yang luar biasa yang bahkan harimau sendiri tak berani melakukanya. Akhirnya harimau
itu terdiam di pinggir sungai, sekan berfikir bahwa si kancil memang bukan
hewan sembarangan.
Story by: Muhammad rifai
Hikmah yang bisa kita petik: ada kalanya, kekuatan
yang kita miliki akan terlihat sangat tak berarti di hadapan seseorang yang
memiliki otak yang cerdas. Oleh karena itu, jadilah orang yang tidak hanya
mengadalkan otot, namun juga harus memiliki ide dan pemikiran yang tajam.


0 Comments