Pada suatu hari, si kancil tengah berjalan-jalan. Hari itu hari mingu, dia ingin berkunjung ke kawasan kolam di pinggir hutan untuk menemui kawanan angsa dan kawanan burung bangau. Namun ketika si kancil tiba di kolam itu, dia tidak menemukan satu burungpun disana. Lalu diapun berjalan menyususri pinggir hutan, ternyata dia menemukan para burung tengah berkumpul disebuah parit. Wajah mereka terlihat lesu, sepertinya masalah besar tengah melanda mereka. Tentu saja si kancil yang cerdik cepat tanggap dengan ketidak beresan itu. Diapun mendekati mereka untuk mencari tahu.
“hai kawan… apa kabar kalian hari ini? kok sepertinya kalian lesu sekali? Sudah 2 minggu aku tak kemari, ada apa gerangan hingga kalian terlihat lesu begini?”. Tanya si kancil. “Untung kau kemari kancil.. kami sedang dilanda masalah gawat. Kami terancam kelaparan..”. jawab seekor burung bangau. “Kelaparan? Lha kok bisa? Bukankah kolam tempat biasa kalian mencari makan memiliki ikan yang melimpah? Tak mungkin habis kan? Apa karena kalian terlalu serakah hingga memakan terlalu banyak ikan sehingga menyebabkan ikanya jadi habis?”. Tanya kancil. “Masalahnya bukan karena kami tuan kancil.. tapi karena beruang. Beberapa hari yang lalu, ada beruang yang tiba-tiba datang ke kolam. Setelah dia tahu kolam itu memiliki banyak ikan, maka dia bersikap serakah. Dan tak ada seekor hewanpun yang boleh mencari ikan di kolam itu. Kalau masih berani mencari ikan di situ, dia mengancam akan melukai kami. Sehingga kami hanya bisa berkumpul disini dan mencari makanan seadanya. Kami kelaparan..”. jawab burung yang lain.
Mendengar jawaban
itu, kancil terkejut. Ternyata masalah mereka memang gawat, kalau dibiarkan
bisa-bisa mereka mati kelaparan. Pantas saja kolam terlihat sepi, padahal
biasanya ramai disinggahi oleh burung-burung yang mencari ikan. Kancil lalu
berfikir sejenak, dia memutar otak untuk mencari solusi seperti biasanya. Para burung-burung
menunggu dengan perasaan was-was, mereka takut jika si kancil tak menemukan
solusi untuk mereka. Wajar saja, karena lawan si kancil kali ini adalah
beruang. Jika kancil melawan beruang, tentu saja kancil tak akan menang secara
jelas. namun mereka mencoba bersabar, mereka percaya bahwa kancil pasti akan
menemukan cara. Beberapa waktu kemudian, kancil tersenyum. Matanya berbinar-binar,
menandakan dia telah menemukan sesuatu.
“Kawan-kawan..
aku punya satu cara yang mungkin bisa kita lakukan untuk mengusir beruang itu. Tapi,
aku butuh bantuan kalian semua. Apa kalian mau membantu?”. Tanya si kancil. “Tentu
saja kami semua siap membantu mu cil, apa lagi itu demi kebaikan kami juga”. Jawab
mereka serempak. “Bagus.. aku suka dengan semangat kalian. Jadi dengarkan apa
yang akan ku katakana berikut ini. kalian semua pergilah mencari kepiting sebanyak-banyaknya,
ke sungai, sawah, kolam, danau, dimanapun. Lalu kumpulkan semua kepiting itu,
dan pada malam hari, kita semua akan menaruh semua kepiting itu ke dalam kolam.
Nah.. beruang tentu tak akan tahu karena dia tengah asik tidur di goanya. Dan ketika
pagi hari dia menuju kolam untuk menangkap ikan, maka kepiting-kepiting itu
akan mencapit kaki dan seluruh bagian tubuhnya ketika dia masuk ke dalam kolam.
Kita biarkan selama beberapa hari dan tunggu dengan sabar, aku yakin beruang
itu pasti akan kapok dan beranggapan ikan di dalam kolam sudah habis dan
berganti hanya di huni kepiting. Dengan cara ini, semoga saja beruang itu tidak
akan kembali ke kolam. Dan kita bisa membersihkan kolam dari kepiting ketika
beruang itu sudah tak lagi datang. Bagaimana? Apa kalian setuju?”. Tanya kancil.
Mendengar ide
kancil yang sangat brilian itu, kontan para burung bersorak sorai, mereka yakin
cara ini pasti akan berhasil. Akhirnya, mereka mulai menjalankan rencana dari
si kancil. Para burung-burung itu terbang ke segala arah dan mengambil setiap
kepiting yang mereka temui, lalu menjatuhkanya ke kolam. Tentu saja mereka
melakukan itu ketika si beruang tidak ada di sekitar kolam. Seharian mereka
bekerja keras, hingga sudah banyak sekali kepiting yang mereka kumpulkan. Dan langkah
selanjutnya sebagaimana rencana si kancil, mereka menunggu. Sebagaimana yang di
prediksi si kancil, paginya si beruang datang ke kolam seperti biasa. Sedangkan
si kancil dan para burung bersembunyi di semak-semak untuk melihat apa yang
akan terjadi selanjutnya. Mereka ngintip dari semak-semak dengan hati
berdebar-debar. Berharap semua berjalan sesuai rencana.
Dan tepat
seperti perkiraan si kancil, ketika si beruang mulai masuk ke dalam kolam,
beruang itu meraung-raung kesakitan. Dia lalu berlari keluar dari dalam kolam,
ternyata banyak kepiting yang mencapit setiap bagian tubuhnya sehingga
menempel. Beruang sepertinya kesulitan untuk melepas mereka. Dan akhirnya
berlari ke dalam hutan dengan menahan rasa sakitnya. Tapi, ternyata beruang
belum kapok. Besoknya dia datang lagi ke kolam, berharap para kepiting sudah
pergi. Tapi ketika dia masuk ke dalam kolam, kejadian yang sama dia alami. Kepiting
mancapit setiap bagian tubuhnya hingga dia meraung-raung kesakitan dan bersusah
payah melepaskan capitan kepiting-kepiting itu. Beruang itupun lari lagi ke
dalam hutan dengan menahan sakit dan perutnya yang sudah semakin lapar. Begitu pula
pada hari ketiga, hal yang sama terulang. Namun, lagi-lagi beruang itu lari
kesakitan ke dalam hutan dengan perutnya yang terasa sudah sangat lapar karena
sudah 3 hari tak memakan ikan.
Dan setelah
hari ketiga, beruang itu sudah tak ada muncul lagi. Mungkin sudah kapok. Tentu saja
hal tersebut membuat para burung bersorak sorai dan merayakanya. Mereka sangat
berterimakasih atas bantuan si kancil karena memberi ide yang cukup cemerlang. Pada
hari berikutnya, para burung bergotong royong dengan penuh semangat untuk
memindahkan semua kepiting-kepiting itu dari kolam. Paruh mereka yang panjang
serta keahlian mereka dalam menangkap kepiting, tentu tak membuat masalah
ketika mereka harus berurusan dengan kepiting yang memiliki capit itu. Sedangkan si
kancil melihat mereka dengan tersenyum bahagia, hatinya sangat lega karena bisa
membantu. Setelah acara pembersihan kepiting dari kolam itu selesai, si kancil
mohon pamit untuk pulang kembali ke tengahhutan. Karena sudah 4 hari lamanya
dia berada di tempat itu. Dia takut, kawan-kawanya di tengah hutan akan merasa
hawatir. Dan kepulangan si kancil diantar oleh para burung dengan rasa terima kasih yang sangat besar. Kali ini, si kancil lagi-lagi menjadi
penolong di masa-masa sulit. Dan kini para burung bisa mencari ikan di kolam dengan bebas tanpa rasa takut.
Story By:
Muhammad Rifai
Hikmah yang
bisa kita petik: Keserakahan sering membuat kita lupa akan banyak hal. Lupa teman, lupa
keluarga, dan lupa bahwa kita tak bisa hidup sendiri. Tak jarang keserakahan
membuat orang akan memiliki banyak musuh. Yang suatu saat bisa mendatangkan
karma karena rasa teraniyaya yang mereka alami. Oleh karena itu, bersikap
baiklah kalian pada sesama. Terutama keluarga dan teman-teman kalian.

0 Comments