Matahri terlihat
sudah mulai condong ke ufuk barat, si kancilpun terbangun ketika dia mendengar
ada suara yang mengganggu mimpi indahnya. “Hai mahluk kerdil, bangun..‼ Aku mau
bertanya pada mu..‼”. teriak suara itu. Dengan malas si kancil membuka mata,
tapi betapa terkejutnya dia ketika tahu bahwa yang membangunkanya adalah dua
ekor katak yang berdiri dengan bertolak pinggang. “Hai.. apa mau kalian? Bisakah
kalian lebih sopan sedikit?”. Kata kancil sedikit protes. “Sopan? Pada siapa? Apa
kau tahu siapa aku?”. Tanya salah satu katak itu. “Iya tentu saja aku tahu, kau
itu katak bukan? Sudah jelas..”. jawab kancil sekenanya karena masih kesal. “Wah..berani
betul kau.. belum tahu siapa aku? Aku ini bukan katak sembarangan.. hai kau
pengawal, katakana padanya siapa aku‼’. Perintah katak itu pada katak satunya.
“Dia adalah
pangeran kerajaan katak yang perkasa.. dia sangat kuat, dia makhluk terkuat di
negerinya. Tak ada yang mampu mengalahkanya dalam pertandingan gulat kerajaan. Dan
dia adalah juara gulat kerajaan selama 9 kali berturut-turut. Dialah pangeran Kodok”.
Kata katak pengawal itu dengan lantang. Mendengar itu, si kancil hampir tertawa
dibuatnya. Tapi karena ingin bersikap lebih ramah, si kancil berusaha menjaga
kesopananya. “Oooo.. jadi kau ini pangeran dari negeri katak? Lalu apa tujuan
mu hingga sampai ke sini? Apa kalian kesasar?”. Jawab kancil ingin tahu. “Jangan
sembarangan.. aku adalah pangeran katak terkuat di dunia, tak ada yang bisa
melawan ku. Dan perintah ku adalah mutlak harus dituruti..”. kata katak itu
dengan sombongnya. Si kancil aslinya mulai jengkel dengan sikap si katak it,
tapi masih dia tahan dengan sabar.
“Hai makhluk
kerdil.. apa kau tahu dimana sarang elang?”. Tanya katak itu lagi. “Hai..‼
bisakah kau lebih sopan jika bertanya dengan orang asing? Bisa-bisa kau celaka
karena perkataan mu sendiri? Aku punya nama, nama ku Kancil. Jadi panggil saja
dengan nama ku”. Si kancil mulai habis kesabaranya. “Hah.. aku adalah pangeran,
aku adalah katak juara gulat 9 kali dan belum terkalahkan. Lalu apa yang harus
aku takutkan? Kanapa aku harus bersikap merendah dengan orang lain?”. Kata katak
itu semakin angkuh. Si kancil semakin jengkel dibuatnya. “Selama ini kau hanya
bergulat melawan sesame katak, apa kau juga tahu kekuatan hewan lain selain
katak? Aku yakin kau sepertinya tak pernah keluar dari kerajaan mu yang yang
nyaman, sehingga tak tahu bagaimana bahayanya dunia luar. Kau harus
berhati-hati, terutama dalam menjaga sikap mu pada orang lain’.” Kata kancil
coba menasehati.
“Dasar kancil
kerdil bodoh.. jangan sok mengajari aku apa yang harus aku lakukan, aku sudah
tahu tindakan ku. Jadi kau tak usah banyak bicara dan ceramah di hadapan ku. Sekarang
kau Cuma tinggal jawab, dimana sarang elang berada?’. Kata katak itu dengan
nada tinggi. Sikap si katak yang sombong ini benar-benar sudah keterlaluan,
namun si kancil tetap berusaha bersabar untuk menyadarkan si katak. “Memangnya
kau mau apa mencari sarang elang?”. Tanya si kancil. “Seperti yang aku bilang..
aku adalah pangeran.. aku adalah katak terkuat.. dank u lihat dari kerajaan ku,
ada elang yang terlihat sangat gagah terbang di angkasa. Aku ingin menangkapnya
dan menjadikan elang itu tunggangan ku. Jika aku memiliki tunggangan elang yang
perkasa, niscaya keperkasaan ku akan lebih terlihat dan aku lebih di segani
oleh rakyat dan musuh-musuh ku.” Kata katak itu dengan yakinnya.
“Tunggu dulu..
kau tak sedang mengigau kan? Kau ini Cuma katak, mana bisa kau menangkap elang.
Hati-hati kawan, jangan terbawa oleh kesombongan mu. Nanti kamu bisa celaka”. Kata
kancil masih berusaha menasehati. Namun jawaban si katak justru di luar dugan,
dia mengumpat dan berkata kasar pada si kancil. “Dasar binatang bodoh, kerdil,
lemah.. memang pantas kau takut pada semua yang kau temui, karena kau binatang
lemah. Jangan samakan aku dengan mu, akau adalah pangeran katak yang perkasa. Kalau
kau tak tahu, bilang tak tahu. Aku akan pergi bertanya pada hewan lain saja,
buang-buang waktu bicara dengan binatang bodoh seperti mu”. Kata katak itu
kemudian mengajak pengawalnya untuk bergegas pergi. Kancil hanya bisa
geleng-geleng kepala dibuatnya. “Kasihan sekali kau katak. Karena kesombongan
dan kebodohan mu, bisa saja kau akan celaka. Tapi semoga saja kau segera sadar
akan tindakan mu sebelum kau dibuat celaka oleh sikap dan kesombongan mu
sendiri”. Kata kancil menghela nafas prihatin lalu pergi untuk pulang ke
rumahnya.
Esok harinya,
si kancil berniat pergi mengunjungi bangau sahabatnya. Kejadian kemarin tentang
dirinya dan si katak masih sedikit berkelebat di benaknya, namun dia segera
menepisnya dan berharap katak itu baik-baik saja. Pak bangau adalah sahabat
kancil yang dia kenal sudah lama. Hampir beberapa minggu ini dia tidak
berkunjung, dan hari ini dia ingin berkunjung untuk melihat kabarnya. Setelah berjalan
setengah hari, akhirnya si kancil tiba di rumah bangau. Dia disambut hangat
oleh bangau yang menjadi sahabat lamanya itu. “Bagaimana kabar mu kawan? Apa kau
sehat?”. Tanya si kancil. “Seperti yang kamu lihat sendiri cil, aku sehat. Meski
beberapa hari ini aku kesulitan mencari makanan. Tempat untuk mencari makan
semakin terbatas karena manusia muali menebang dan menjadikan hutan sebagai
lahan dan tempat tinggal. Kolam-kolam yang biasanya kami gunakan untuk mencari
ikan, kini sudah di kuasai manusia. Mereka memancing ikan-ikan di kolam, dan
mengusir setiap ada burung yang mendekat. Mereka cukup serakah sebagai
pendatang”. Cerita bangau.
“Yah.. mau
bagaimana lagi? Toh kita juga tak mungkin mampu melawan mereka. Mereka terlalu
pintar dan berbahaya. Mereka bisa menempa besi hingga sangat tajam, bisa
membuat anak panah, bahkan jebakan yang berbahaya. Jadi kita hanya bisa
menghindar dari mereka. Dari pada kita celaka. Tapi sepertinya kamu terlalu
senang untuk ukuran bangau yang kelaparan?”. Kata kancil setengah menggoda. “Hahira..
tau saja kau ini cil, kamu memang selalu jeli dari dulu. Yah.. bagaimana aku
tak senang cil? Sepertinya Tuhan sangat baik pada ku, bahkan ketika aku
kelaparan, makanan dating sendiri menghampiri ku”. Jawan bangau.
“Wah.. kok bisa? Beruntung betul
kau. Bagaimana ceritanya?”. Tanya kancil penasaran. “Kemarin waktu aku tengah
mencari keong di parit dekat padang ilalang karena kelaparan, tiba-tiba ada dua
ekor katak menghampiriku. Lagaknya sangat sombong, dan sangat berani sekali
membentak aku. Padahal biasanya kalo ada katak yang melihat ku, katak itu akan
lari karena tahu pasti akan aku makan. Tapi kamarin, aku sungguh ketemu katak
yang aneh. Katanya mau menangkap elang. Jangankan elang, selamat dari bangau
seperti ku saja mereka tak bisa. Sekarang, mereka sudah berada diperut ku,
sehingga aku cukup kenyang”. Kata bangau menutup ceritanya.
Mendengar cerita
si bangau, kancil sedikit terkejut. Dia teringat pada dua katak sombong yang
ditemuinya kemarin di pinggir padang ilalang. Pasti setelah bertemu si kancil,
mereka bertemu si bangau dalam perjalanan. Seperti yang kancil duga. Kesombongan
si katak dan kebodohanya akan bahaya yang belum pernah dia temui, mengantarkan
dua katak sombong itu menuju celaka. Mendengar cerita si bangau sahabatnya, si
kancil berusaha ikut tersenyum karena menurut si bangau itu memang hal yang
cukup lucu. Apa lagi jika tahu ada katak yang mau menangkap elang, sungguh
konyol kedengaranya. Namun senyum si kancil terasa sangat hambar, karena didalam
hati kecilnya, dia merasa perihatin pada nasib kedua katak itu. Tapi apa boleh
buat? Nasi sudah menjadi bubur, dan kesombongan selalu berahir dengan petaka.
Story By:
Muhammad Rifai
Hikmah yang
bisa kita petik: Terkadang, sedikit pengeahuan yang kita miliki mampu membuat
kita bersikap sombong. Seolah kita adalah yang paling tahu, dan merasa lebih
tahu dari orang lain. Atau malah kita merasa egois karena merasa paling benar. Tapi
kita harus ingat, kesombongan itu sebenarnya tak pantas untuk kita. karena
setiap kesombongan pasti akan memiliki akhir yang kurang baik, bisa-bisa kita
celaka. Dan kita harus ingat.. Di atas langit masih ada langit…


0 Comments